Jumat, 27 Februari 2015

Mimpiku dan Bias Nafasku

Ku rasakan tertata rapi
tertenun oleh duka-duka abadi
indah memang..
tapi terlalu menyakitkan

Bias telah menjauhi cahaya
suara telah meninggalkan nyayian
titik pun enggan menjadikannya sebuah garis kecil

kini pahatan itu telah hancur tersapu
sekawan hujan yang tegelincir
mengikis penompang-penompang
hidup tercecer

aku ingin patung itu terpahat lagi
tak mudah memang
apalagi dengan hati yang beku
beku oleh oleh masa lalu

tapi itu mimpiku
mimpi yang berikan aku hidup
kini cahaya itu telah rindu pada biasnya
nyanyian ingin ada dengan suara

garispun ingin terbentuk lagi
oleh sekumpulan titik hati juga
berontak ta untuk terpahat lagi

kini biarkan bias itu menjadi hembusan nafasku...

3 komentar: